Barakah

Kembali menulis cinta…

menulis kebesaranNya..

Sedikit ingin berbagi cerita tentang apa yang pernah saya saksikan. Ini tentang barakah, tentang perjuangan, tentang cinta…

Suatu hari, saya menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah jalan Monjali (daerah yang terletak di bagian utara kota Jogja). Sore itu, langit tak secerah seperti biasa, warna hitam yang menyeruak di barat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih, di kepalanya ada pecis putih kecil,  celananya hitam panjang, dan Sandal jepit yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya, hmm.. begitu sederhana. Seperti yang lainnya juga, ia memesan, “Pecel Lele, Mas !”.

 “berapa?”, tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit lebih keras.

“satu. Dibungkus…” perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

“Nggak makan sini aja Mas? Takut keburu hujan ya?”

“hi hi, buat isteri…”

“Ooo..”

Sesuai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Dari tapak-tapak kecilnya. Khawatir pecel lele untuk isteri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu, ia rengkuh erat dengan tangan kanannya, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecisnya, ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele. Huft.. lumayan aman sekarang.

Apa perasaan kalian melihat lelaki ini? Kasihan. Iba. Miris. Sedih. ?

Itu kan kalian!. Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau kalian bertemu sih. Hehe.. jawabannya, Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat isteri tercinta. Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan, dan kegembiraan. Kebahagiaan seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan di rumah petak kontrakannya. Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang disaksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat masih membujang. Subhanallah..

Begitulah. Karena ada konsep yang dinamakan barakah, kita tidak diperkenankan mengukur badan orang dengan baju kita sendiri. Pada pemandangan yang tak tertembus oleh penilaian subjektif kita itu, daripada berkomentar (yang sifatnya ‘iri tanda tak mampu’), akan jauh lebih baik kita memuji Allah atas kebesaranNya.

Barakah. Ya, barakah. Dan kita semakin bertanya-tanya, apa itu barakah. Secara sederhana, barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu. Ketika Allah mencintai hambaNya, maka Ia berkenan membuat hati sang hamba begitu peka. Saat ditenggelamkan dalam lautan nikmat, sang hamba peka untuk segera mengenakan alat selamnya. Ia peka. Hatinya berbunga melihat indahnya berbagai rerupa, namun tak pernah melalaikan satu kata, Syukur. Di sisi lain, Allah juga mengasah agar sang hamba peka, di saat gelombang musibah bertubi-tubi menghantam dan badai melantakkan apa yang dia punya, dia tak melupakan satu kata, sabar.  Mudah-mudahan Allah meluaskan barakah itu hingga kita pun merasainya.

 ______________________________

Wahai jiwaku yang mendamba barakah dalam pernikahan sebagaimana saudara-saudaramu telah mendoakan.. wahai diriku yang merindu detik-detik kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah.. inilah saatnya. Inilah waktunya untuk menggapai pernikahan yang barakah itu. Untuk kita yang belum menikah, masih ada waktu untuk mempersiapkan dan menata hati ini. Dan untuk kalian yang sudah menikah, tidak ada kata terlambat untuk mengisi hari-hari ke depan dengan perbaikan. Karena kita memang tak boleh berhenti belajar, dan tak terkenan istirahat untuk terus memperbaiki diri.

dikembangkan dari artikel ustd Salim A. Fillah berjudul “barakah pernikahan”

One thought on “Barakah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s