Bagi mereka yang mengupayakan cinta

Lagi ujian, tapi (lagi) malas juga buka-buka materi kuliah. ( sepertinya memang g afdhol ya kalau mahasiswa tanpa malas😀 ). Iseng-iseng deh buka buku lama (bukan buku materi kuliah), akhirnya terhenti beberapa saat ketika membaca tulisan tentang tahapan sesuatu itu

bisa dikatakan benar. Seperti apa ? seperti ini :

Proses sesuatu dikatakan benar :

1. Shidqun Niyah

artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menatap lurus ke depan. Benar dalam persangkaan pada Allah.

2. Shidqun ‘Azm

artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memantapkan jiwa.

3. Shidqun Itizam

artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menepati rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan tekad. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan.

4. Shidqun ‘Amaal

artinya benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Illahi. Benar dalam cara.

(Salim A. Fillah, dalam artikel berjudul “nomor 2”)

__ __ __ __

Hmm, jadi teringat dengan cita-cita saya untuk melangsungkan pernikahan setelah selesai studi S1 ini.

Ok, sekarang, mari kita coba refleksikan proses di atas dalam proses menuju pernikahan. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jika ash shidiq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

Seorang teman pernah berpesan seperti ini, bahwa Kuatnya komitmen mengalahkan kekanak-kanakan jiwa. “Orang selalu berfikir”, kata dia, “bahwa kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil. Aku ingin katakan, berhentilah mencari orang yang tepat, dan jadikan orang di sampingmu yang memang hebat itu menjadi orang yang tepat. Marilah menjadi manusia yang ‘menjadikan’, bukan sekedar ‘mencari’. Ada dua hal di dunia ini, menikahi orang yang dicintai, atau mencintai orang yang dinikahi. Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.” Katanya.

‘ala kulli haal..

Segalanya bermula dari bagaimana cara kita memepersepsi pernikahan. Pernikahan disebut sebagai separuh agama karena ianya adalah masalah aqidah. Masalah bagaimana kita berpersepsi terhadap Allah, diri kita, dan pernikahan itu sendiri. Dan pernikahan juga disebut sebagai separuh agama karena tanpa isteri/suami di samping kita, masih banyak perintah-perintah Allah dalam al qur’an yang belum akan terasa maknanya.

Yah, akhirnya, semoga kita sadar, bahwa pernikahan yang kita bicarakan dalam konteks dakwah tentu mencakup semua hal. Dari ranjang yang bertabur mawar hingga sajadah yang menebar wangi melati. Dari kebersamaan untuk membangun cinta, hingga rindu yang mengetuk-ngetuk karena amanah dakwah menggariskan jarak. Dari rumah yang sesekali asri, di lain waktu berantakan. Dan tetangga yang bergilir datang mengeluhkan dapurnya. Juga agar semangat memperbaiki Negeri tidak berubah menjadi nafsu yang mengharuskan diri berkuasa hingga lupa bahwa di kamar tidur anak-anak, calon pemimpin Negeri ini 30 tahun mendatang, sedang menanti bimbingan seorang ayah dan seorang bunda.

Ahh, Di situlah tarbiyahnya..

______________________________________________________

Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan, dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada Pemilik ‘Arsyi Maha Tinggi, ia akan mati. Cinta yang tercabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga yang mungkin sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke dalam bak sampah.

“Kami yakin ini akan berhasil. Sesederhana itu. Kami fokus pada apa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang panjang dan penuh kebahagiaan. Ya, kami punya visi !.” (delapan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s