Adakah Kesalahan saat kita Berdoa?

gambar dari sini : mblendes.wordpress.com

Pernah ga sih ngrasa kenapa doa kita ga kunjung dikabulkan oleh Allah? Atau mungkin doa kita dikabulkan, namun bukan seperti yang kita harapkan. Lalu, pernahkah mencoba meng-evaluasi diri sendiri tentang doa yang kita ucapkan kepadaNya? Mungkin adab kita ketika berdoa salah, mungkin cara kita menyampaikan doa salah, dll. So, untuk lebih jelas bagaimana adab berdoa yang baik, mari simak kajian dari Ustad Salim A. Fillah berikut ini,

Karena desakan hajat yang memenuhi jiwa, sebab keinginan-keinginan yang menghantui angan, kita lalu menjadi hamba pen-doa. Tentu saja meminta apapun, selama ianya kebaikan, tak terlarang di sisi Allah Yang Maha Pemurah & Maha Penyayang.

Sungguh kita dianjurkan banyak meminta, sebab yang tak pernah memohon apapun pada Allah, justru jatuh pada kesombongan. Hari-hari ini, kita disuguhi ajaran-ajaran antah-berantah tentang doa, yang katanya harus spesifik, tervisualisasi, LoA.
Hari ini, mari sejenak belajar pada hamba-hamba terpilih tentang doa.

Hamba agung pertama adalah Musa. betapa payah dia berlari dari Mesir hingga Madyan, dikejar pasukan setelah membunuh. Kisah yang diabadikan Surah Al Qashash itu amat indah, bahwa dalam lelah & gelisah, Musa tetap tergerak menolong sesama. Ada 2 putri Syu’aib yang tersebab kehormatan diri tak ingin berdesak-desak, menunggu giliran memberi minum ternak. Maka Musa, yang walau perkasa tapi tenaganya tinggal sisa-sisa, menolong kedua gadis mulia itu dengan begitu ksatria. Seusainya, Musa bernaung di tempat yang agak teduh. Para Mufassir menyebutkan, dia begitu lapar & memerlukan makanan. Tapi apakah kemudian Musa berdoa secara detail, spesifik, & divisualisasikan atas apa yang dia hajatkan? Mari kita simak.

Musa berdoa: “Rabbi, inni lima anzalta ilayya min KHAIRIN faqiir..” “Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara KEBAIKAN, aku amat faqir, amatlah memerlukan.” {QS 28: 24}. Kalimat doa-nya dipilih dengan indah.

Musa tidak menyebut hajatnya yang amat jelas, lapar. Musa tak menyebut kebutuhannya yang sangat mendesak, makanan. Dengan amat santun & mesra, dia mohon pada Rabb-nya kebaikan, & dia tahu, Allah lebih mengetahui yang terbaik baginya. Maka apa sajakah yang diterima Musa dari Allah atas doa yang tidak detail, tidak spesifik, & tidak tervisualisasi ini?

Musa bukan hanya mendapat makan atas laparnya, tapi juga perlindungan, bimbingan, pekerjaan, bahkan kelak istri & kerasulan. Betapa Allah Maha Pemurah, doa hambaNya yang santun & sederhana, dijawab dengan limpahan karunia melampaui hajat utama.

Hamba agung kedua yang kita kan belajar doa darinya ialah Yunus, ‘Alaihis Salam, setelah dia marah & pergi dari kaumnya. Mari kita fahami betapa berat tugas da’wah Yunus di Ninawa, betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Lalu diapun pergi sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi dahulu, pasti turun pada kaum pendurhaka.

Tapi dia pergi karena ketaksabarannya sebelum ada perintah Allah, maka Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain. Kita tahu, ringkasnya, Yunus dibuang ke laut dari atas kapal setelah 3 kali undian muncul namanya, lalu ditelan ikan.Menurut sebagian Mufassir, ikan yang menelannya ditelan ikan lebih besar, jadilah ia gelap, dalam gelap, dalam gelap. Bahkan ikan itu membawanya ke dasar samudera. Maka terinsyaf Yunus akan khilafnya, lalu menghibalah dia. Bagaimana doa-nya?

Apakah doa-nya detail, spesifik, & tervisualisasi, jika yang paling dihajatkan Yunus saat itu ialah keluar dari perut ikan?

Tapi doa-nya justru, “La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin..”, Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau.. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” {QS 21: 87} Indah & mesra, penuh kerendahan hati.

Apa yang diperoleh Yunus dari doa yang amat tidak spesifik, tidak detail, & tidak tervisualisasi ini? Sungguh berlimpah!

Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan, dia bahkan tak perlu payah berenang, karena ‘diantar’ sampai daratan. Dan bukan sembarang daratan! Ibn Katsir mengetengahkan riwayat, Yunus didamparkan di tanah yang ditumbuhi suatu tanaman. Ketika Yunus memakannya, tanaman itu memulihkan tenaga & kesehatannya setelah sakit & payah berpuluh hari di perut ikan & lautan.

Yunus pun bugar, bersemangat, & berjanji pada Allah untuk nanti tak menyerah mendakwahi kaumnya, apapun yang terjadi. Tapi alangkah takjub penuh syukurnya dia, ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah.
Doa sederhana itu diijabah, bebas dari perut ikan, selamat dari laut ke darat, tanaman pembugar, & berimanlah kaumnya!

Berkata Ibn Taimiyah, “Di antara seagung doa, ialah doa Yunus AS. Padanya terkandung 2 hal, pengagungan keesaan Allah dan pengakuan akan dosa.” Sungguh untuk bermesra dengan Allah & dikaruniai nikmat agung, 2 hal dalam doa Yunus ini cukup.

Memang demikianlah, berdoa bukan cara memberi tahu Allah apa yang kita perlukan, sebab Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana.

Berdo itu berbincang mesra, agar Allah mengaruniakan yang terbaik untuk kita dengan ilmu & kuasaNya yang sungguh Maha. Di atas soal ‘boleh-tidak boleh’, ada perbincangan tentang Adab kepada Allah SWT, hingga para ‘ulama memuji doa Adam AS. Doa dengan kalimat imperatif (mengandung Fi’lul Amr/kata kerja perintah) sesungguhnya tak terlarang, tapi Adam ajarkan Adab.
“Rabbana zhalamna anfusana, wa IN LAM taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri sendiri, ANDAI Kau TAK ampuni & sayangi kami, sungguh kami pastilah termasuk orang merugi.”

Doa indah itu menghiba, merendah, mengakui lemah, fakir, salah, & bernodanya diri, disertai mengagungkan keesaan Allah.

Sekali lagi, saya tak hendak mengatakan bahwa doa detail, spesifik, & tervisualisasi itu dilarang. Hanya, kita bicara Adab.

Mungkin boleh, -mungkin-, kekata, “Saya sudah doa sembari shadaqah sekian, kita tantang Allah yang sudah janji ganti 10 kali!” Tapi dari sisi Adab, kita khawatir tak medapati tuntunannya dari insan-insan mulia yang doanya diabadikan oleh Al Quran.

Sebagai penutup, mari simak lagi doa seorang ahli ibadah yang detail, spesifik, & tervisualisasi. Ibn ‘Athaillah pengisahnya.

Seorang ‘Abid berdoa mohon pada Allah agar dikaruniai 2 potong roti tiap hari tanpa harus bekerja, sehingga dengannya dia bisa tekun beribadah. Dalam bayangannya, jika tak berpayah kerja mengejar dunia, ibadahnya kan lebih terjaga. Maka Allah mengabulkan doanya dengan cara yang tak terduga, ia ditimpa fitnah dahsyat yang membuatnya harus dipenjara.

Allah takdirkan di penjara dia diransum 2 potong roti, pagi & petang. Tanpa bekerja. Diapun luang & lapang beribadah. Tapi apa yang dilakukan si ‘Abid? Dia sibuk meratapi nasibnya yang terasa nestapa di penjara, “Mengapa ini terjadi?” Dia tak sadar bahwa masuk penjara adalah jalan ijabah atas doanya yang detail, spesifik, & tervisualisasi, 2 roti/hari.

Demikian ya Shalihin/at  bincang kita tentang doa. Maafkan segala yang tak terkenan. Selamat berbincang mesra denganNya 🙂

“Al Quran telah menunjukkan penyakit kita sekaligus obatnya, penyakit kita ialah dosa, & obatnya ialah Istighfar padaNya.” -Hasan Al Bashri-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s