Cerpen : Tembok

Cerpen ini adalah karya Kinsia Eyusa
Aku menggenggam erat sebuah buku yang bau baru. Berdaya. Tertera di bagian atas sampul, judul besar yang berpotensi menggoda ribuan pengunjung toko buku, minta dibawa pulang, digeledah isinya.Buku ini adalah yang paling bungsu dari rangkaian pentalogi karangan Mika, penulis kesayanganku.Gelar menggelikan itu sebenarnya terjemahan harfiah dari “My favorite writer”.Sebagai editor yang mengedepankan pemakaian bahasa yang baik dan benar, aku kurang puas dengan dua alternatif translasi lainnya. Penulis kesukaan? Kedengarannya seperti makanan.Penulis kegemaran? Kesannya macam hobi.Jadilah kubudayakan gelar itu untuk menggambarkannya di mana-mana; saat berbual dengan orang kantor, saat mengupdate tentangnya di twitter, serta untuk menamai kontaknya di telepon genggam. Hanya Mika yang tak tahu ia diam-diam telah bergelar. Lebih baik jangan.

Mika adalah penulis pentalogi -lima buku yang isinya saling bersambung- yang penyuntingannya dipercayakan kepadaku. Aku juga yang selalu kebagian menemaninya roadshow; berkunjung ke kampus-kampus di berbagai kota untuk bedah buku atau untuk acara penandatanganan buku. Herannya, selama empat tahun bekerja bersama, hilir mudik ke mana-mana, Mika masih bergeming; begitu rapat dan tertutup di hadapanku.

Kami banyak bicara. Banyak bermufakat, berunding, saling melontar ide dan tak jarang berdebat sengit demi pendapat masing-masing. Tapi ibarat buku yang masih dalam plastik, yang ia perlihatkan hanya keindahan dan kilatan sampul, sedikit sinopsis, blurb, serta judul besar yang -sebagaimana buku-buku yang ditulisnya-berdaya memancing keingintahuan.

Sedikit sekali yang kuketahui tentang kehidupan pribadinya. Ia seperempat Aceh, seperempat Palembang, seperempat Jawa dan seperempat Sunda. Umurnya dua puluh empat tahun (yang berarti hanya beda dua tahun dariku, ia bebas memanggil tanpa embel-embel Mas), lahir di bulan Februari, tanggal sepuluh.

Makanan kegemarannya tak bisa dideteksi sebab selama roadshow, dia tergolong pemakan segala. Tak pernah banyak cingcong. Jenis lagu yang ia sukai pun aku tak tahu pasti, sebab didengarkannya sendiri melalui kabel bercabang yang ujungnya menyumbat telinga kanan dan kiri.

Di dalam mobil, ia menjelma sepuluh kali lipat lebih pendiam. Matanya menerawang ke pemandangan di luar jendela.Tangannya bersidekap, isyarat tubuh yang secara universal diterjemahkan sebagai ‘Jangan.Ganggu.Saya. Ada tembok tebal di antara aku yang konsentrasi menyetir, dan ia yang asyik berfikir.

Aku kerap membayangkan seperti apa dia di balik temboknya. Selain menulis, Mika juga mengajar Bahasa Inggris di salah satu sekolah dasar Internasional. Ia ditugaskan di kelas satu dan kelas dua. Mustahil, muka lempeng yang selalu dipasangnya di depanku mampu mencairkan anak-anak itu. Aku yakin, saat mengajar ia pasti berlipat-kali lebih ekspresif.

Novel-novelnya juga menyiratkan bahwa ia pribadi yang riang gembira. Dialog antar tokohnya mengalir, ia punya selera humor yang bagus, cenderung bodormalah, sampai aku berkali-kali tergelak sendiri saat menyunting naskah. Selain itu, pembawaan yang dingin, tenang dan anggun itu tidak cocok dengan muka bayi dan kulit putihnya. Mika benar-benar misteri.

***

Yang paling kukhawatirkan, adalah kebiasaannya menyendiri. Sebagai keturunan Melayu yang besar di gerombolan, aku paling iba melihat perempuan, muda, sedang makan sendirian, menyuap nasi lambat-lambat dengan muka tertunduk sayu.

Begitulah Mika.

Jika roadshow ke luar kota, aku sering turun pagi-pagi dari kamar untuk menebus kupon sarapan gratis pemberian hotel. Dari jauh, dapat kulihat Mika sudah duduk manis menempati meja yang agak tersudut, makan perlahan, dengan mata menerawang ke mana-mana. Kuperiksa telepon genggam, tidak ada sms darinya. Mika memang tidak pernah mengajakku.

***

Hari ini ia akan datang ke kantor, memenuhi janji kami mengoreksi satu per satu halaman sebelum final printing. Saat ngobrol nanti, aku sudah bertekad akan mengemukakan sebuah lamaran penting: untuk jadi temannya. JADI TEMANNYA. This is my last shot, pikirku. Siapa yang tahu, setelah promosi buku ke-lima ini berakhir dia akan menulis buku lagi atau tidak.

***

“Mika, kamu tau, apa yang beda dari naskah-naskah kamu?”

Aku memulai percakapan ringan sambil membolak-balik halaman 87-88. Mika menggeleng, gugup. Aku salut pada mental pemula -rookie mentality- yang selalu ia tunjukkan. Semua bukunya sangat, sangat laku, tapi ia tak pernah besar kepala.

“Naskah kamu bikin saya lupa mengoreksi. Pertama kali naskah-naskah itu sampai, kamu selalu berhasil bikin saya turun pangkat, dari editor jadi penikmat biasa.”

Kepalanya tertunduk, ia menghindari kontak mata, selalu begitu dalam tiap percakapan penting. Ia seolah tak ingin pikirannya terbaca. “Itu apa?” tanyanya polos. “Komentar?Kritik?”

Aku tergelak. Caranya menjaga diri ketat sekali, ia sampai merasa perlu menyaring segala input yang masuk. “Itu pujian, tauk. Sejujur-jujurnya jujur, kamu brilian sebagai penulis. Saya takjub.”

Kali ini ia tak sempat menunduk. Kuperhatikan mukanya yang merona merah, tersipu. “Gimana saya harus menanggapi itu?”

“Pujian tadi?” aku memastikan. Ia menjawab dengan anggukan. “Hahaha, ya terserah kamu. Bilang makasih, mungkin. Atau coolly brush it off. Atau merendah, menampik.”

“Terimakasih,” ujarnya halus setelah beberapa saat.”Tapi pujiannya berlebihan. Saya nggak segitunya.”

Ia mengeksekusi ketiga opsiku.

Kami kembali sibuk meneliti buku bau baru. Aku mengumpulkan keberanian untuk melamar; jadi temannya; sekaligus menemukan jawaban kenapa selama ini ia begitu kaku terhadapku.

“Mika, boleh nanya? Saya pernah salah apa sih? Kok kayaknya kamu fully guarded banget kalau deket saya?” Mika terperangah. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya menjawab. Aku hanya berharap semoga Mika tidak bilang: ‘Kamu mirip Ariel sih. Saya sebel sama Ariel’. Kalau itu alasannya, aku tak tertolong.

“Kamu nggak salah apa-apa kok.Saya yang salah.”

Aku diam, menunggu dengan sabar sementara ia memikirkan kata-kata yang (kuduga) dipersiapkan betul agar tak menyinggungku.

“Saya ini mudah percaya, mudah ditindas, mudah ketipu. Terutama kalau berhadapan sama orang yang pandai bicara, sweet-talker, yang kelewat ramah, kayak kamu. I couldn’t figure out people’s true intentions until after I was being deceived. It’s my weakness. Hence, menjadi berjarak dan memberi jarak adalah satu-satunya bentuk pertahanan yang saya tau.”

“Jadi kamu milih nggak punya temen?” “I Do have friends. Best friends,” ia membela diri.

“The ones who stick with me through thick and thin ever since I was a bratty little baby.”

“Kamu nutup pintu untuk temen baru dong?” sejurus saja pertanyaan itu terlontar, aku langsung merasa bersalah karena terdengar begitu menghakimi.

“Enggak. Saya cuma lebih hati-hati sama orang dengan kemampuan retorik yang tinggi.”

Kesimpulannya, ia tak percaya padaku. Bahkan setelah empat tahun. Tak kusangka pertahanan dirinya lebih kukuh dari pintu air kebanyakan waduk di Jakarta. “Maaf ya Rio,” Mika melanjutkan. “Jarak ini disengaja. I’d like to forever assume that you are a good guy.”

‘But I AM A GOOD GUY’ rasanya dalam hati aku sudah menjerit-jerit pilu sekaligus menjambak-jambak rambut frustasi. Bagaimana cara meyakinkan Mika bahwa sifat mahir menggombal, pandai merayu, dan bermulut manis itu merupakan bakat turunan yang tidak bisa aku elakkan.

“Gini deh. Don’t assume,” kataku pada akhirnya. “Try me. Let’s be friends. I maybe am a sweet talker, but I speak nothing but truth. I don’t have bad intentions or hidden agenda toward you. Saya cuma pengen jadi orang yang bisa kamu hubungi kapanpun perlu teman makan siang. That much is enough.”

Mika, untuk pertama kalinya, menerawang mataku dalam-dalam. Lalu mengangguk. She said yes. For our newly built friendship.

“Sekarang kita temen kan? Temen harus saling jujur kan? Ayo ngaku, selama ini kamu pernah ngatain saya apa di depan orang-orang kantor kalau lagi kesal?” ia mengerling jahil. Tenggorokanku mendadak terasa kering.

“Pohon tebu,” jawabku asal. “Soalnya tungkai kaki kamu panjang banget dan kamu keras kepala.”

Dia mendengus lalu tertawa sejadi-jadinya. Aku nyengir kuda.

Dalam hati aku merasa memikul dosa besar karena pertemanan ini dimulai dengan kebohongan; selama ini mana pernah aku menjulukinya pohon tebu. Ia ‘penulis kesayangan’. Tapi bila tadi aku bongkar, Mika akan langsung membubarkan pertemanan kami yang baru seumur tunggul jagung.

Aku juga bohong soal intensi. Siapa bilang aku tak pernah punya niat apa-apa terhadapnya?

Saat melihat ia makan sendirian di pojok restoran hotel, aku ingin menepuk-nepuk puncak kepalanya, menemaninya, membiarkannya mencurah separuh beban hidup padaku.

Saat ia menjelaskan garis besar ide novelnya dengan penuh semangat -satu-satunya momen dimana ia dengan sukarela melonggarkan pengawalan diri-binar matanya menyedotku dalam khayalan bodoh, alangkah bahagianya kalau rutin harianku adalah dia yang menyambut kala pulang kerja dengan cerita pengusir lelah.

Tawa Mika mereda. “Saya jadi kepengen air tebu. Nanti siang pas istirahat kantor temenin nyari ya?” Tembok sudah runtuh, itu yang penting.

——————————-
– See more at: http://adf.ly/ZXeNA

One thought on “Cerpen : Tembok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s