Cerpen : Tembok

Cerpen ini adalah karya Kinsia Eyusa
Aku menggenggam erat sebuah buku yang bau baru. Berdaya. Tertera di bagian atas sampul, judul besar yang berpotensi menggoda ribuan pengunjung toko buku, minta dibawa pulang, digeledah isinya.Buku ini adalah yang paling bungsu dari rangkaian pentalogi karangan Mika, penulis kesayanganku.Gelar menggelikan itu sebenarnya terjemahan harfiah dari “My favorite writer”.Sebagai editor yang mengedepankan pemakaian bahasa yang baik dan benar, aku kurang puas dengan dua alternatif translasi lainnya. Penulis kesukaan? Kedengarannya seperti makanan.Penulis kegemaran? Kesannya macam hobi.Jadilah kubudayakan gelar itu untuk menggambarkannya di mana-mana; saat berbual dengan orang kantor, saat mengupdate tentangnya di twitter, serta untuk menamai kontaknya di telepon genggam. Hanya Mika yang tak tahu ia diam-diam telah bergelar. Lebih baik jangan.

Mika adalah penulis pentalogi -lima buku yang isinya saling bersambung- yang penyuntingannya dipercayakan kepadaku. Aku juga yang selalu kebagian menemaninya roadshow; berkunjung ke kampus-kampus di berbagai kota untuk bedah buku atau untuk acara penandatanganan buku. Herannya, selama empat tahun bekerja bersama, hilir mudik ke mana-mana, Mika masih bergeming; begitu rapat dan tertutup di hadapanku.

Continue reading